Selasa, 23 November 2010

ISLAM, PEMUDA, DAN PERBAIKAN UMMAT

Oleh : Dede Tsabitul Misyaq

Yang menjadi tantangan besar ummat saat kini, ialah belum terwujudnya risalah Islam, Ia belum menjadi rahmat bagi manusia. Oleh karena itu kita harus mengadakan koreksi total terhadap cara-cara hidup kita, baik dalam bidang ubudiyah maupun dalam bidang muamalah. Hendaklah segala penyelewengan dan kesalahan segera diperbaiki dan diluruskan kembali. Sesungguhnya semua pemeluk Islam tanpa kecuali sama-sama memikul tanggung jawab dan kewajiban moral.
Ummat Islam dilarang menjadi ummat pengekor. Tetapi ia harus menjadi pengendali. Islam tidak boleh menjadi gerobak yang hanya berjalan ketika ditarik, dengan arah yang tidak tertuju. Tetapi Islam harus menjadi lokomotif yang menarik gerobak-gerobak lainnya dengan rtenaga bes. Islam tidak condong kebarat dan ketimur, tetapi Islam tampil ketengah-tengah mengajak seluruh dunia, ras, dan bangsa untuk berkiblat kepadanya. Islamlah yang harus memimpin jalannya sejarah menuju hidup dan kehidupan yang bahagia dalam masyarakat yang madani, yang berkeadilan dan sejahtera dibawah naungan ampunan Allah.
Allah telah mengutus Rasulnya dengan membawa pimpinan dan agama kebenaran untuk Ia menangkan atas agama-agama semuanya, dan cukuplah Allah sebagai saksi atas kemenangan itu.
Islam adalah agama dakwah. Yakni agama yang harus disampaikan kepada seluruh ummat manusia, yang telah ditegskan dengan teks-teks yang jelas dalam sumber ajarannya, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits. Ajaran-ajran Islam perlu diterapkan dalam segala bidang kehidupan manusia, dijadikan juru selamat yang hakiki di dunia dan di akhirat, menjadikan Islam sebagai nikmat dan kebanggaan manusia.
Kita yang hidup dalam abad ini tidak boleh terpesona saja dan dininabobokan oleh zaman keemasan yang lampau, tidak terpedaya oleh gemerlapnya dunia. Kita generasi harapan harus bangkit memikul tugas dan tanggung jawab Dakwh Islamiah.
Hendaklah Islam kita jadikan program hidup untuk menerapkannya menjadi akidah manusia., menjadi hukum dan kode etik dalam pergaulan hidup, dan hendaklah Islam menjadi way of life manusia. Tugas dan kewajiban yang demikian dinamakan JIHAD, perjuangan suci.
Namun , untuk meleksanakan tugas-tugas ini dibutuhkan pengorbanan yang besar, karena dakwah ini tidak hanya diusung oleh segelintir orang saja, tapi seluruh ummat Islam. Untuk itu, diperlukan semangat-semangat baru untuk mengembaliakn Izzah Islam, mengembalikan peradaban Islam yang sudah lama terkapar. Semangat-semangat baru inilah yang akan membawa lentera risalah Islamiah dan memberikan kabar gembira bagi manusia dengan keberadaannya.
Pemuda adalah tonggak utama dalam perjuangan Islam. Semangat-semangat baru inilah yang akan membawa lentera risalah Islamiah dan memberikan kabar gembira bagi manusia dengan keberadaannya. Maka dari itu tidak ada lagi waktu untuk menunda-nunda tidak layak kita ucapkan kata tidak, untuk menyelamatkan dunia yang kini dalam kondisi gundah gulana, memperbaiki sistem yang telah gagal melekukan perbaikan.
Kebangkitan suatu peradaban adalah tergantung dari generasi mudanya. Ketika suatu bangsa dipenuhi oleh pemuda yang pemalas dan lemah tidak berdaya, maka bersiap-siaplah atas keruntuhan bangsa itu. Tapi bila suatu bangsa dipenuhi oleh pemuda yang memiliki semangat yang tinggi, memiliki fikrah yang bersih, memiliki tekad yang membaja maka bangsa itu teleh menunjukkan kemenangan, telah menunjukkan ketangguhnnya kepda dunia.
”Kita adalah singa-singa Ar-rahman, yang akan menghancur binasakan musuh-musuh berbisa. Kita adalah pejuang pembela kebeneran lepaskan belenggu runtuhkan angkar murka”
Itulah salah satu lirik nasyid dari Ar-ruhul jadid yng sudah tidak asing lagi kita dengar. Pemuda adalah pejuang sejati yang akan membawa agama ini sebagai pemimpin bagi seluruh dunia.
Banyak sejarah yang telah diukir para pemuda Islam. Pada zaman Rasulullah, pemuda selalu berada dalam barisan terdepan dalam berjihad, mereka menjadi senjata utama dalam sebuah pertempuran. Mereka bagaikan bom atom yang siap memusnahkan menghancurkan, dan meluluh lantakkan musuh-musuhnya. Semangat yang dimiliki oleh para pemuda mengalahkan api yang membara, yang siap melalap kecongkakan dunia. Suara pekikakannya adalah solusi bagi dunia, pemecah masalah dunia yang akan menembus sampai angkasa
Semangat-semangat inilah yang ditunjukkan oleh bocah-bocah Palestina yang mencoba menembus hujanan peluru, yang menghadang bom rudal musuh, yang menerjang teng-teng sampai mundur untuk kejayaan islam. Tekat yang membaja telah tertanam pada diri mereka, hanya dengan tujuan mendapatkan sebuah kemenangan yang tidak pernah didapatkan pemuda-pemuda yang bobrok, yang hanya mementingkan kepentingan dunia dari pada akhiratnya.
Hanya dengan berbekal batu-batu langkah-langkah kecil, semangat-semangat membara, mereka mampu memukul mundur pasukan musuh, membuat kecut tentara-tentra lawan. Ketika mereka tidak lagi meraskan pendidikan nyaman seperti pemuda Indonesia, ketika mereka sudah tidak bisa tidur nyenyak, ketika merek tidak bisa lagi memekan makanan yng enak, tapi kenikmatan surga lebih mereka dambakan.
Mereka sudah tidak lagi bercita-cita menjadi sarjana, mereka tidak lagi bangga menjadi seorang rektor, presiden, mentri dan lain sebagainya. Tapi yang mereka banggkan adalah turut serta berjihd di jalan allah, dan syahid dijalannya.
Tidak bisakah pemuda Indonesia meniru semangat-semangat bocah palestina ? jawabannya hanya ada dalam diri pemuda Indonesia. Mereka yeng sudah tidak peduli lagi dengan masalah yang kini tengah melanda ummat, yang sudah memalingkan muka terhadap ketimpangan-ketimpangan dunia, saatnya kini untuk bangkit. Kita tunjukkan pada dunia bahwa kita adalah pelopor perubahan yang siap bertarung, yang siap melawan makar-makar durjana.
Masa untuk bersantai sudah selesai pertempuran sudah datang membangunkan kita dari tidur lelap yang panjang, kita harus raih kemenangan dari peperangan ini dengan tangan-tngan kita. Tidak ada lagi waktu untuk berpoya-poya saatnya melangkahkan kaki menuju kejayaan Islam yang sudah lama kita dambakan.
Berhenti berarti kita membirkan diri kita tergilas oleh kebiadaban. Malas berarti telah membirkan diri kita ditampar kesewenang-wenngan. Tiada kata lagi kita harus berjuang dengan segala potensi yang kita miliki walaupun mengorbankan jiwa dan raga kita. Kita harus raih kemenangan dunia dan Akhirat. Ummat menunggu kedatangan kita suara-suara kita, tangan tangan kita untuk membebasknnya dari keterpurukan.
AKANKAH KALIAN DIAM SELAMANYA ??? 


(Referensi : Risalah pergerakan, Komitmen Muslim Sejati)
Selengkapnya...

Read more...

Minggu, 21 November 2010

Izinkan Aku Mencintaimu

 Oleh : Ematul Hasanah

Ya RABB...
Izinkan aku mencintaiMu walaupun cinta ku ini tak kan sesempurna para nabiMu,tak sesempurna cinta para sufiMu,para kekasihMu
Izinkan aku merindukanMu walaupun rinduku ini tak serindu para syuhadaMu kepadaMu
Izinkan aku mencintaiMu,lewat sholat yang ku dirikan yang kadang dengan pikiran melayang ke berbagai himpitan dunia
Izinkan aku mencintaiMu,lewat sujud panjangku dalam tahajud yang tak sanggup ku penuhi setiap malam

izinkan aku mencintaiMu di setiap lantunan ayat-ayat cintaMu yang masih terbata-bata terlafaz dari bibirku
Izinkan aku mencintaiMu lewat luka yang pernah menggores di hatiku dengan memasrahkan diriku ke dalam samudra tawakal padaMu
Izinkan aku mencintaiMu lewat sepotong hati yang masih sering ku nodai dan akan ku basuh dengan cahaya keimanan kepadaMu
Izinkan aku mencintaiMu lewat cintaku pada saudaraku
Izinkan aku mencintaiMu lewat ayunan pena yang bersenandung kalamMu
Izinkan aku mencintaiMu dalam lautan rinduku padaMu
Izinkan aku mencintaiMu wahai RABB walaupun aku harus merangkak menggapai cintaMu,hingga suatu saat nanti cintaku padaMu terbalas dengan menatap wajahMu di mahligai syurga
inilah aku yang mencoba mencintaiMu,semampu ku dengan segala kelemahanku
Pada siapa lagi aku melabuhkan cintaku selain padaMu sang penggegam jiwaku
Selengkapnya...

Read more...

Jumat, 19 November 2010

Siti Hajar, Mata Air Keteladanan yang Takkan Pernah Kering

Oleh : Istiqlal Ahad Dien Ramen

Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Barangsiapa menyeru kepada hidayah (petunjuk) maka ia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa yang mengerjakannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun”.

Wanita agung itu, tidak lama setelah ditinggalkan oleh suami tercintanya Ibrahim AS. Di gurun tandus yang tak bertumbuh dan tak bertuan itu. Kini hanya mereka berdua, bersama bayi merah yang baru saja dilahirkannya. Lalu tersadar! Bahwa sebentar lagi bayi merah itu hendak meminta jatahnya 9untuk disusui). Tak ada suami, tak ada orang yang bisa dimintai pertolongan, tak ada pula makanan dan minuman yang ditinggalkan bersamanya. Perempuan mulia yang baru saja melahirkan ini, lalu bangkit tertatih mencari sesuatu yang dapat mengisi perut dan menghilangkan dahaga dikerongkongannya mengejar sumber air yang semakin dikejar justru semakin menjauh karena memang hanya fatamorgana. Tapi beliau tak pernah putus harap beliau terus berlari tertatih menyeret kakinya yang semakin lama semaki berat sampai akhirnya habis sudah semua sisa-sisa tenaganya, barulah beliau bersimpuh memohon kepada Rabbnya. Lalu Alloh memberinya mata air yang mengalir dari tanah yang dipijak bayi merah itu….. Demikian, sepenggal pragmen sejarah perjuangan Ibunda Siti Hajar.
Sahabat…..Perempuan mana yang lebih agung dan mulia dari Siti Hajar? Yang semua permintaannya “pasti” Alloh kabulkan. Tetapi beliau meskipun dalam kondisi yang sulit, hamil diusia tua, lalu melahirkan dalam kondisi yang sangat beresiko, ditinggal dalam kondisi yang paling sulit ditempat yang tak ada orang dan pepohonan. Beliau tidak serta merta “bermanja-manja” kepada Tuhannya untuk dipenuhi segala kebutuhannya. Tapi justru sebaliknya, menghabiskan seluruh kemampuannya untuk bekerja dan bekerja. Tapi itulah cara Alloh menghadirkan keteladanan bagi kita. Alloh hadirkan manusia-manusia agung yang tak pernah lepas dari tantangan dan ujian yang besar. Kalaulah perempaun agung ini memasrahkan nasib diri dan bayinya kepada Alloh ketika itu tanpa usaha keras. Maka hari ini kita tidak akan menyaksikan ribuan, jutaan, bahkan milyaran manusia berlari-lairi kecil dari Safa menuju Marwa dalam ritual ibadah haji. Tetapi Bunda Hajar telah memulai, maka Alloh telah mengganti lelahnya dengan mengabadikan usahanya untuk mencari seumber mata air menjadi salah satu rukun haji saat ini. Artinya, amal yang telah beliau lakukan telah diikuti oleh bermilyar-milyar manusia sejak dulu sampai akhir zaman kelak. Maka, pahala milyaran manusia itupun tak pernah berhenti mengalir kepadanya.
Sahabat…..Mungkin Alloh tak menuntut pengorbanan sebesar itu kepada kita hari ini untuk dicatat sebagai kebaikan yang tak terbatas. Kita hanya perlu untuk memutuskan sebuah amal yang memungkinkan itu menjadi kebaikan sepanjang sejarah kehidupan kita. Rasululloh SAW pernah bersabda “ Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sodaqoh jariah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya.”
Sahabat…..Keputusan kita untuk mengambil bagian dalam gerakan dakwa sekolah adalah keputusan yang tepat. Di sinilah medan amal kita hari, disinilah kita menyemaikan kebaikan-kebaikan itu. Tepat, karena mereka adalah gambaran masa depan. Tepat, karena mereka penentu warna di masa-masa yang akan datang. Tepat, karna merekalah yang akan mengendalikan urusan umat di etape berikutnya. Dan yang tak kalah pentingnya adalah bawa merekalah yang akan memperpanjang nafas kebenaran sampai waktu yang tak dapat ditentukan. Maka ketika kebenaran hidup bersama mereka yang kemudian diwariskan secara terus menerus. Itulah amal jariah, itulah ilmu yang bermanfaat yang melahir anak-anak generasi yang akan senantiasa mendoakan kita sampai Alloh menutup usia peradaban bumi.
Maka sahabatku…..Mari kita berkomitmen untuk membuat hidup yang singkat ini bermakna. Biarlah sakit kita, lelah kita, energi kita yang tak seberapa ini memperpanjang cerita kehidupan tentang keabadian kebenaran yang kita perjuangkan!
Selamat berjuang sahabatku!!!

Memoar Ka. Iqro’ Club NTB
Selengkapnya...

Read more...

Kamis, 18 November 2010

Iqro’ Club Melahirkan Pahlawan Baru Indonesia

 Oleh : Dede Tsabitul Misyaq

Minggu, 24 Oktober 2010, Iqro’ Club Lombok Tengah mengadakan Training Pelajar Siswa SMA Se-Lombok tengah. Acara ini berlangsung dengan meriah. Lebih dari 600 pelajar hadir dalam acara tersebut. Acara yang bertemakan Be Amazing Young Generation ini bertujuan untuk memotivasi pelajar untuk menjadi lebih baik. Menurut ketua panitia Dede Tsabitul dalam sambutannya, acara ini dilaksanakan dalam rangka menyambut hari sumpah pemuda yang jatuh pada tanggal 28 oktober nanti. Oleh karena itu, acara ini diharapkan bisa membangkitkan semangat jiwa kepahlawanan bagi para pelajar, katanya.
Acara ini berlangsung di Gedung MUI Lombok tengah dan dibuka langsung oleh Bupati Lombok Tengah. Dalam sambutannya, Junaidi Nadjamuddin mengatakan bahwa generasi muda saat ini adalah harapan yang akan memperbaiki bangsa yang saat ini memprihatinkan. Dia menghimbau, supaya acara seperti ini rutin dilakukan untuk pencerahan para generasi muda.

Acara ini diikuti dengan antusias dan semangat oleh para peserta. Beberapa dari peserta mengajukan pertanyaan seputar bagaimana belajar efektif. dan menjadi orang sukses. Acara ini menghadirkan Trainer Mujahidin, S.Pd. Panitia juga membagi-bagikan sejumlah Door Prize barupa Buku, diary, dan beberapa souvenir kepada para peserta.

Dengan disuguhkan hiburan nasyid di sela-sela acara, para peserta semakin bersemangat dan terkesan dengan kegiatan tersebut. Seoarang peserta Dodi Saputra dari MAN 1 Praya mengatakan “Kami sangat menikmati acara ini. Tidak monoton dan tidak membosankan. Apalagi ditambah dengan penampilan pembawa acara dan pemateri yang sangat bersahabat dengan kami”

“kegiatan ini akan rutin kita laksanakan sebagai program kerja Iqro’ Club. Dan untuk acara berikutnya, kita akan adakan dengan bentuk acara yang lebih besar dan dengan jumlah peserta yang lebih banyak dari saat ini” kata Zaenuddin Efendi selaku ketua Iqra’ Club Lombok tengah
Selengkapnya...

Read more...

AIR MATA CINTA

 Oleh : Dede Tsabitul Misyaq

Air mata cinta itu jatuh mengalir, menganak sungai, membentuk guliran-guliran bening ketika kepala berada di tempat terendah. Bahkan lebih rendah dari Dubur sekalipun. Sujud menghamba dengan penuh kesadaran. Berserah diri dengan serendah-rendahnya. Mengabdi dengan sehina-hinanya. Menghiba dengan sefakir-fakirnya. Begitulah manusia yang sadar akan dirinya sebagai hamba.
Kehinaan di dunia akan menjadi kehormatan ketika kita berserah kepadaNya. Kefakiran di dunia akan menjadi sebuah kekayaan ketika kita mengabdi kepadaNya. Keangkuhan di dunia menjadi ketidak berdayaan ketika berada di hadapanNya. Semua predikat yang menggambarkan kedudukan tinggi kita di dunia menjadi tidak berguna.
Tidak ada yang berharga selain keimanan yang suci. Tidak ada yang penting selain ibadah kepadaNya. Keangkuhan menjadi ketidakberdayaan ketika berhadapan denganNya. Diri menjadi sebongkah tanah tak berharga.
Selalu ada ketulusan yang menjadi arus air mata cinta itu. Selalu ada keikhlasan dalam hati-hati tunduk. Seperti inilah para salafusshalih menggapai puncak keimanan tertinggi. Menjadi hamba yang penuh ketundukan dan pengabdian. Dari sinilah mereka mendapatkan energi dan semangat untuk hidup. Tidak takut akan rintangan yang datang membadai. Tidak pernah gentar dengan ujian yang datang menghempas. Karena mereka selalu sadar dan yakin, bahwa ketika Allah menciptakan ujian dan cobaan, maka Allahpun pasti menciptakan kenikmatan dan kebahagiaan.
Air mata cinta selalu menghadirkan kesetiaan. Ikrar kesetiaan untuk berkorban. Ikrar yang tewajantahkan dalam sebuah perjuangan yang mendatangkan kemenangan. Kesetiaan yang mengantarkan jiwa-jiwa pengabdi menjadi pelaku sejarah dalam membangun peradaban mulia Al-Islam. Menjadikannya orang-orang yang tidak rela hanya duduk mematung tanpa ada konstribusi amal dalam perjuangan suci.
Air mata cinta itu selalu melahirkan optimisme dalam bekerja. Ada keyakinan yang membaja dalam bertindak. Sehingga apa yang mereka kerjakan selalu diawali dengan ketulusan. Mengharap keridhaan dan keberkahan dari Sang Penguasa tujuannya. Kegagalan bukanlah menjadi sebuah isyarat untuk mereka berhenti berjuang. Mereka akan terus berjuang sampai mereka mendapatkan sebuah kebahagiaan dan kemenangan.
Air mata cinta, menglir dari mata seorang perkasa Umar bin Khattab ketika mendengarkan surat cinta dari Rabbnya. Sang singa padang pasir itu kini hanya menjadi manusia yang tidak memiliki kemampuan apa-apa dihadapanNya. Keperkasaan dan keangkuhan yang selama ini menguasai dirinya, berubah menjadi kelemah lembutan dan ketundukan jiwa. Kesombongan yang selama ini mengungkungnya, telah hancur berguguran dihantam badai keimanan.
Air mata Cinta, hanya akan dialirkan oleh mata-mata yang penuh kekhusukan. Ia hanya akan bisa dialirkan oleh mata yang memiliki tatapan cinta yang kuat. Bukan mata dengan tatapan liar.
Menangislah saudaraku. Menangislah. Karena sesungguhnya tangisan kita bukanlah tanda kehinaan dan kelemahan di dunia. Tapi tangisan kita menandakan bahawa kita adalah orang-orang yang kuat. Kita adalah manusia-manusia yang akan siap menjalani hidup. Walau dengan ujian dan rintangan yang bertubi sekalipun. Karena keyakinan bahwa Allah Sang Pengatur kehidupan akan selalu bersama kita. Ia telah menetapkan kehidupan untuk kita. Ia telah menentukan jalan dan arah langkah kita. Keyakinan inilah yang melahirkan ketidak ragu-raguan dalam menapaki hidup.
Menangislah atas nama cinta. Cinta kepada Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Bukankah seorang pecinta akan selalu menangis ketika curhat kepada sang kekasih ? Bukankah seorang rakyat akan selalu merengek dan bersimpuh ketika ia meminta sesuatu yang ia butuhkan kepada rajanya ? Kalau demikian, lalu apa yang membuat kita malu untuk menagis dihadapan Sang Maha Perkasa ?
Bukankah Allah telah berjanji dalam Ayat sucinya, bahwa cinta kita kepadaNya pasti terbalas ?
“.................Dia mencintai mereka dan merekapun mencintainya, bersikap lemah lembut terhadap orang-orang beriman, dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa-siapa yang dikehendaki. Dan Allah Mahaluas pemberianNya, Maha Mengetahui” (Al-Maidah : 54)
Lalu siapakah yang paling menepati janji selain Allah ?
Selengkapnya...

Read more...

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP