Siti Hajar, Mata Air Keteladanan yang Takkan Pernah Kering
Oleh : Istiqlal Ahad Dien Ramen
Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Barangsiapa menyeru kepada hidayah (petunjuk) maka ia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa yang mengerjakannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun”.
Sahabat…..Perempuan mana yang lebih agung dan mulia dari Siti Hajar? Yang semua permintaannya “pasti” Alloh kabulkan. Tetapi beliau meskipun dalam kondisi yang sulit, hamil diusia tua, lalu melahirkan dalam kondisi yang sangat beresiko, ditinggal dalam kondisi yang paling sulit ditempat yang tak ada orang dan pepohonan. Beliau tidak serta merta “bermanja-manja” kepada Tuhannya untuk dipenuhi segala kebutuhannya. Tapi justru sebaliknya, menghabiskan seluruh kemampuannya untuk bekerja dan bekerja. Tapi itulah cara Alloh menghadirkan keteladanan bagi kita. Alloh hadirkan manusia-manusia agung yang tak pernah lepas dari tantangan dan ujian yang besar. Kalaulah perempaun agung ini memasrahkan nasib diri dan bayinya kepada Alloh ketika itu tanpa usaha keras. Maka hari ini kita tidak akan menyaksikan ribuan, jutaan, bahkan milyaran manusia berlari-lairi kecil dari Safa menuju Marwa dalam ritual ibadah haji. Tetapi Bunda Hajar telah memulai, maka Alloh telah mengganti lelahnya dengan mengabadikan usahanya untuk mencari seumber mata air menjadi salah satu rukun haji saat ini. Artinya, amal yang telah beliau lakukan telah diikuti oleh bermilyar-milyar manusia sejak dulu sampai akhir zaman kelak. Maka, pahala milyaran manusia itupun tak pernah berhenti mengalir kepadanya.
Sahabat…..Mungkin Alloh tak menuntut pengorbanan sebesar itu kepada kita hari ini untuk dicatat sebagai kebaikan yang tak terbatas. Kita hanya perlu untuk memutuskan sebuah amal yang memungkinkan itu menjadi kebaikan sepanjang sejarah kehidupan kita. Rasululloh SAW pernah bersabda “ Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sodaqoh jariah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya.”
Sahabat…..Keputusan kita untuk mengambil bagian dalam gerakan dakwa sekolah adalah keputusan yang tepat. Di sinilah medan amal kita hari, disinilah kita menyemaikan kebaikan-kebaikan itu. Tepat, karena mereka adalah gambaran masa depan. Tepat, karena mereka penentu warna di masa-masa yang akan datang. Tepat, karna merekalah yang akan mengendalikan urusan umat di etape berikutnya. Dan yang tak kalah pentingnya adalah bawa merekalah yang akan memperpanjang nafas kebenaran sampai waktu yang tak dapat ditentukan. Maka ketika kebenaran hidup bersama mereka yang kemudian diwariskan secara terus menerus. Itulah amal jariah, itulah ilmu yang bermanfaat yang melahir anak-anak generasi yang akan senantiasa mendoakan kita sampai Alloh menutup usia peradaban bumi.
Maka sahabatku…..Mari kita berkomitmen untuk membuat hidup yang singkat ini bermakna. Biarlah sakit kita, lelah kita, energi kita yang tak seberapa ini memperpanjang cerita kehidupan tentang keabadian kebenaran yang kita perjuangkan!
Selamat berjuang sahabatku!!!
Memoar Ka. Iqro’ Club NTB

0 komentar:
Posting Komentar